Keuntungan Bersih di Bank BNI Naik 59,34 Persen

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah menyelesaikan audit laporan keuangannya untuk periode yang berakhir pada September 2010. Selanjutnya, bank pelat merah tersebut tinggal merealisasikan rencana right issue-nya.

BNI mencatatkan kenaikan laba bersih kondolidasi sebesar 59,34 persen menjadi Rp2,95 triliun per September 2010 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp1,85 triliun.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Jakarta, Jumat (15/10/2010), kenaikan laba bersih perseroan ini didukung oleh penurunan beban operasional selain bunga bersih dari Rp6,04 triliun menjadi Rp4,47 triliun.

Sementara, pendapatan bunga bersih Perseroan berhasil naik menjadi Rp8,61 triliun dari Rp8,09 triliun. Laba operasioanl BNI juga ikut naik per September 2010 menjadi Rp4,24 triliun dari Rp2,26 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara tabungan yang berhasil dihimpun BNI mencapai Rp57,7 triliun, naik dari sebelumnya yang hanya Rp50,9 triliun. Sementara giro juga tercatat naik menjadi Rp46,1 triliun dari sebelumnya Rp38,3 triliun. Begitu juga dengan deposito berjangkanya naik menjadi Rp79,9 triliun dari sebelumnya Rp70,7 triliun
More aboutKeuntungan Bersih di Bank BNI Naik 59,34 Persen

Laba Bersih BNI Tumbuh 37%

Pertumbuhan Laba Bersih BNI Tumbuh 37% -PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kenaikan laba sebesar 37 persen menjadi Rp4,06 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,95 triliun.

”Pendapatan bunga dan pendapatan non-bunga atau fee based income dapat ditingkatkan sehingga laba bersih pada triwulan III-2011 ini naik 37 persen menjadi Rp4,06 triliun dibanding laba bersih pada triwulan III-2010 yang sebesar Rp2,95 triliun,” kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (27/10/2011).

Kenaikan laba bersih BNI pada triwulan III-2011 ini disebabkan oleh peningkatan pendapatan bunga sebesar lima persen, peningkatan pendapatan non-bunga (fee based income) sebesar 28 persen, dan juga disebabkan perbaikan kualitas asset sehingga berhasil menurunkan beban PPAP sebesar minus 13 persen.

Total aset BNI per akhir September 2011 tercatat sebesar Rp268,43 triliun, atau tumbuh secara moderat sebesar 19 persen dibandingkan posisi akhir September 2010  yang sebesar Rp224,81 triliun. Di sisi liabilities, dana pihak ketiga (DPK) BNI meningkat 11 persen dari Rp183,77 triliun menjadi Rp204,38 triliun.

Sedangkan dari komposisinya, 59 persen DPK merupakan CASA (current account saving account) sebagai sumber dana murah dan 41 persen berupa deposito. Dominannya CASA menunjukkan bahwa dengan peningkatan kualitas layanan, BNI semakin dipercaya sebagai transactional banking untuk memenuhi berbagai kebutuhan transaksi nasabah

More aboutLaba Bersih BNI Tumbuh 37%

Kredit BNI Tumbuh 33% Pada Tahun 2007

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan pertumbuhan kredit senilai Rp22,19 triliun atau naik 33 persen dari Rp66,46 triliun pada akhir 2006 menjadi Rp88,65 triliun. Pertumbuhan kredit juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit, yang ditunjukkan oleh turunnya kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross dari 10,5 persen menjadi 8,18 persen.

NPL net juga turun dari 6,6 persen di akhir tahun lalu menjadi 4,01 persen. Demikian disampaikan Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, dalam keterangan tertulisnya mengenai paparan kinerja BNI 2007, di Jakarta, Selasa (31/3/2008). Sementara tabungan selama 2007 tumbuh 25 persen dari Rp38,62 triliun menjadi Rp48,14 triliun, dengan total dana pihak ketiga (termasuk giro & deposito) mencapai Rp146,19 triliun. Kenaikan ini didorong pertumbuhan rekening di BNI dari 8,3 juta rekening pada 2006 menjadi 9,8 juta rekening pada 2007.

 Saat ini jumlah rekening nasabah BNI mencapai di atas 10 juta rekening. Total Aktiva per 31 Desember 2007 tercatat sebesar Rp183,24 triliun, naik 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan aktiva selain didorong oleh pesatnya pertumbuhan kredit juga oleh pertumbuhan dana pihak ketiga. Kenaikan terutama terjadi pada dana murah, yaitu giro (naik 20 persen) dan tabungan (naik 25 persen).

Sehingga, komposisi dana menjadi jauh lebih sehat dibandingkan tahun lalu, yaitu menjadi 38 persen deposito dan 62 persen dana murah (tabungan dan deposito) Outstanding kredit per Desember 2007 mencapai Rp88,65 triliun atau naik 33 persen dari Rp66,46 triliun di akhir tahun lalu, termasuk pembiayaan Syariah yang naik 59 persen sehingga menjadi Rp 1,80 triliun di akhir 2007.

Ekspansi tertinggi dibukukan oleh segmen usaha menengah dan kecil, dengan pertumbuhan masing-masing senilai Rp5,92 triliun atau naik 41 persen dan Rp4,13 triliun naik 30 persen.

 Komposisi kredit saat ini telah sejalan dengan yang ditargetkan, dimana pinjaman korporasi merupakan 40 persen dari total pinjaman, sedangkan porsi pinjaman komersial dan konsumer masing-masing sebesar 43 persen dan 15 persen dan sisanya adalah pembiayaan Syariah dua persen.
More aboutKredit BNI Tumbuh 33% Pada Tahun 2007

Penurunan Laba BNI Turun 61,7% Jadi Rp153 M

Laba bersih Bank BNI mengalami penurunan signifikan sekira 61,7 persen dari Rp400 miliar pada kuartal I-2007 menjadi Rp153 miliar pada kuartal I-2008. "Ini disebabkan kenaikan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) sebesar 92,5 persen, untuk meningkatkan coverage ratio menjadi 83 persen," ujar Dirut BNI Gatot Suwondo, saat memaparkan laporan kinerja perseroan kuartal I-2008, di Gedung BNI, Jakarta, Senin (28/4/2008).

Namun, lanjut Gatot, laba bersih sebelum PPAP mengalami kenaikan 14,6 persen dari Rp1,2 triliun menjadi Rp1,41 triliun. Pendapatan bunga BNI mengalami kenaikan sekira 46,1 persen menjadi Rp2,23 triliun dari kuartal tahun sebelumnya Rp1,52 triliun.

 Pada kuartal I-2007 komposisi dana murah dan dana mahal masing-masing 50 persen. Namun, pada kuartal pertama tahun ini masing-masing menjadi 62 persen dan 38 persen.

 "Hasil ini dicapai setelah BNI menaikkan tabungan sebesar 23 persen dari Rp38,35 triliun menjadi Rp47,24 triliun," jelas Gatot. Sementara giro realatif sama dari Rp32,73 triliun menjadi Rp30,73 triliun. Untuk jumlah deposito sumber dana mahal turun dari Rp70,65 triliun menjadi Rp48,44 triliun.

 Untuk kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) nett turun dari 6,6 persen menjadi 3,2 persen, NPL gross juga turun dari 10,5 persen manjadi 8,6 persen.

 Rasio kecukupan modal (CAR) dengan risiko kredit menjadi 18,33 persen dari 16,81 persen. CAR dengan risiko pasar menjadi 16,3 persen dari 15,7 persen. Return on Asset (RoA) dari 1,41 persen menjadi 0,5 persen, dan Return on Equity (RoE) dari 16,14 persen menjadi 4,19 persen.� Sedangkan Loan to Deposito Ratio (LDR) 48,85 persen menjadi 70,46 persen.
More aboutPenurunan Laba BNI Turun 61,7% Jadi Rp153 M

Kredit bermasalah kartu kredit BNI CukupTinggi

Kredit bermasalah kartu kredit PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) saat ini mencapai delapan persen. Perseroan akan terus meningkatkan jumlah pemakai kartu kredit BNI sebanyak 1,4 juta pemegang kartu.

"Kami menargetkan pemegang kartu kredit ada penambahan sebanyak 250 ribu pengguna hingga akhir tahun. Serta pada tahun 2012, perseroan akan menjadi pemain nomor satu," tutur VP Credit Card BNI Grace Pong Sama, kepada wartawan, saat diskusi review bisnis consumer BNI di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (15/8/2009) sore.

Sebagai informasi, untuk kuartal II ini kredit BNI tumbuh 21 persen dan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 19 persen. Sementara total aset BNI per akhir Juni 2009 tercatat sebesar Rp203,62 triliun atau naik 16 persen dibandingkan posisi akhir Juni 2008 yang sebesar Rp176,04 triliun. Kenaikan aktiva antara lain terjadi pada pos penempatan dana (49 persen) dan pertumbuhan kredit (21 persen).

Outstanding kredit akhir triwulan II-2009 mencapai Rp119,86 triliun (naik 21 persen) dari Rp99,02 triliun di akhir triwulan II-2008 lalu, termasuk pembiayaan syariah yang naik 21 persen dari Rp2,97 triliun menjadi Rp3,60 triliun.

Adapun komposisi kredit masih didominasi oleh kredit usaha kecil dan menengah yang mencapai 43 persen, disusul oleh kredit korporasi dan internasional sebesar 39 persen, kredit konsumer 15 persen, dan pembiayaan syariah sebesar tiga persen.

Di sisi liabilities, DPK masyarakat meningkat 19 persen dari Rp140,26 triliun menjadi Rp167,23 triliun, dengan komposisi 54 persen dana murah (tabungan dan giro) dan 46 persen deposito. (ade)
More aboutKredit bermasalah kartu kredit BNI CukupTinggi

Target BNI Untuk Bisnis Internasional

Target BNI Untuk Bisnis Internasional -PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengungkapkan mampu mencapai target pendapatan sebesar Rp200 miliar dari divisi internasional pada 2013 mendatang.

"Tahun ini kita sekira Rp50 miliar dari desk Jepang saja. Kalau semua desk sudah beroperasi, bisa mencapai Rp200 miliar, dan kita optimistis," ungkap Kepala Divisi Internasional BNI A Firman Wibowo di Gedung BNI, 46 Jakarta, Kamis (2/8/2012).

Firman melanjutkan hingga saat ini, potensi transaksi perusahaan Jepang yang ada di Indonesia mencapai USD48,8 miliar.

"Ada sekira seribu perusahaan Jepang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, saat ini ada 196 perusahaan Jepang yang sudah buka rekening di BNI, atau sekira 20 persen, dengan dana mengendap sekira Rp1,3 triliun dalam bentuk deposito dan tabungan," paparnya.

Sekadar informasi, perseroan menjelaskan akan mengembangkan kerjasama dengan bank-bank regional negara Jepang dengan mengembangkan unit Japan Desk di Indonesia mulai 1 Januari lalu. Japan Desk tersebut merupakan unit kerjasama antara BBNI dengan bank regional Jepang. Tujuannya, mengelola dana perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia.

Dalam membentuk Japan Desk tersebut perseroan melakukan kerjasama, yaitu antara perseroan dan lembaga pembiayaan ekspor Pemerintah Jepang yakni Japan Bank of International Corporation (JBIC). Nantinya, kerjasama dengan JBIC memudahkan perseroan dalam merangkul bank-bank regional Jepang untuk masuk dalam kerjasama Japan Desk.
More aboutTarget BNI Untuk Bisnis Internasional

Saldo Rata Rata Nasabah Kaya Bank BNI

Saldo Rata Rata Nasabah Kaya Bank BNI -Meski banyak bank-bank yang mengkategorikan nasabah jenis wealth management/priority banking harus bersaldo minimum Rp500 juta, ternyata banyak nasabah yang memiliki saldo di atas saldo minimum tersebut. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya, saldo rata-rata nasabahnya mencapai Rp2,1 miliar.

General Manager Divisi Consumer Management & Marketing BNI Purnomo B Soetadi mengatakan, layanan wealth management BNI atau yang biasa disebut dengan BNI Emerald, dari segi saldo minimum memang berbeda dibandingkan layanan sejenis dari bank lain. Untuk mendapatkan layanan premium ini, nasabah harus menempatkan saldo minimum Rp1 miliar.

"Rata-rata nasabah BNI Emerald saldonya Rp2,1 miliar," kata Purnomo, usai konferensi pers Indonesia fashion Week 2013, di Jakarta, Selasa (5/2/2013).

Menurut Purnomo, produk yang dipakai nasabah ini, mayoritas atau 60 persen memang masih berfokus kepada produk konvensional seperti deposito dan tabungan.
Sementara sisa 40 persennya produk investasi yang dipakai kebanyakan mengarah kepada produk reksa dana, bancassurance, maupun treasury related produk. Khusus untuk bancassurance, BNI telah menggandeng lima perusahaan asuransi.

"Jadi strategi kita fokus kepada nasabah dengan memenuhi produk yang dibutuhkan dan fasilitas seperti apa yang perlu disediakan," tuturnya.

BNI juga memberikan layanan premium lainnya seperti layanan super premium berupa antar-jemput dengan menggunakan Heli dari kantor BNI Pusat ke Bandara Soekarno-Hatta, BNI Emerald Lounge, maupun Concierge Service di cabang-cabang BNI di luar negeri.
More aboutSaldo Rata Rata Nasabah Kaya Bank BNI